Gambaran Umum Fisik Rasulullah SAW

Anas bin Malik ra berkata: “Rasulullah saw. bukan orang yang tinggi sekali, dan tidak pula pendek. Tidak juga putih sekali, dan tidak berwarna coklat. Rambutnya tidak terlalu keriting dan tidak terlalu lurus.

Hadits Qudsi

Sering kita mendengarkan dalam kehidupan sehari-hari tentang hadits qudsi. apakah hadits qudsi itu? apakah beda hadits qudsi dengan hadits nabawi secara umum ? apakah derajatnya sama dengan Al Quran ? inilah yang akan kita bahas disini.

Do'a Niat Wudhu

Wudhu adalah mensucikan anggota tubuh dengan menggunakan air bersih.Jika akan melakukan ibadah Shalat seorang muslim diwajibkan berwudhu,Wudu juga bisa di lakukan dengan debu atau yang di sebut dengan tayamum.

Keluarga Rasulullah SAW

Ayah dan Ibu Rasulullah SAW, Nama ayah baginda ialah: Abdullah ibn Abdul Mutthalib ibn Hasyim ibn Abd Manaf ibn Qushay ibn Kilab ibn Murrah ibn Ka’ab ibn Lu’ay ibn Ghalib ibn Fihr ibn Malik ibn al-Nadhr ibn Kinanah ibn Khuzaimah ibn Mudrikah ibn Ilyas.

Kelahiran Rasulullah SAW

Kelahiran Rasulullah SAW. Beliau lahir pada hari Senin 12 Rabi’ul Awal tahun Gajah. Dinamakan sebagai tahun Gajah karena di tahun itu menjelang kelahiran Muhammad, terjadi peristiwa besar, yaitu penyerangan pasukan gajah dari negeri Habasyah menuju Makkah.

Showing posts with label My Life. Show all posts
Showing posts with label My Life. Show all posts

Sunday, April 29, 2018

Dahsyatnya kata Maaf


“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa yang memaafkan dan berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat, maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim. (QS Asy-Syura: 40) dan banyak lagi dalil dalam Al Quran tentang kata maaf.

Meminta maaf itu berat dan sangat sulit. namun ada kekuatan tersendiri dari kata maaf ini,  karena kata maaf merupakan bagian dari Magic Words. sehingga makna yang diucapkan sangat dalam dan akan membekas di dalam sanubari. 

Ternyata, Orang-orang yang telah memaafkan masa lalunya, mampu berdamai dengan keadaan masa lalu, lebih ringan menghadapi masa depan sesulit apapun. Orang-orang yang ringan memaafkan, jiwanya lebih sehat, mudah lepas dari rongrongan sakit hati.
Kata-kata maaf, entah meminta maaf atau memberikan maaf, ternyata berkhasiat seperi terapi pada diri kita sendiri. Istilahnya, auto-healing, yang bisa menyembuhkan diri sendiri.


Luka batin masa lalu, entah karena disakiti “mantan”, disakiti musuh, dikhianati orang kepercayaan, difitnah rekan kerja atau orang terkasih, atau karena cekcok dengan keluarga, tak semestinya dibawa lari sepanjang hidup. Luka itu harus dibasuh, dibalut, hingga akhirnya kering dan sembuh.


Banyak orang meremehkan kata maaf,  baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di saat hari raya Idul Fitri. Karena persoalan ingin menyampaikan maaf secara langsung inilah, salah satunya, menjadi salah satu alasan mengapa ribuan hingga jutaan orang  rela berjubel-jubel di antara kemacetan untuk sengaja hadir meminta maaf dengan keluarganya. Menurut penelitian terakhir, para ilmuwan Amerika membuktikan bahwa mereka yang mampu memaafkan adalah lebih sehat baik jiwa maupun raga. 


Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniyah namun juga jasmaniyah. Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress [tekanan jiwa], susah tidur dan sakit perut sangatlah berkurang pada orang-orang ini.

Mulai saat inilah tidak ada kata terlambat bagi kita untuk selalu introspeksi diri, sejauh mana dada dan hati kita memaafkan kesalahan orang lain atau meminta maaf atas segala kesalahan kita. Hindari sikap egoisme dalam diri yang membuat setiap manusia lupa akan hakikat jati dirinya. Karena manusia yang besar adalah manusia yang dapat mengendalikan hawa nafsunya, tidak mudah marah, lapang dada dan hatinya serta selalu mementingkan kemaslahatan ummah.


Oya, memaafkan dan meminta maaf tak harus menunggu Idul Fitri. Bahkan, mengkhususkan acara memaafkan pada saat hari raya tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah maupun para sahabatnya. Saling memaafkan bisa dilakukan kapan saja. 
Dalam kehidupan seorang mengucapkan maaf adalah hal yang sedikit sulit karena permintaan maaf ini sering diartikan kesalahan atau kekalahan. sehingga nampak susah diucapkan. hanya kebesaran jiwa yang sering dapat mengungkapkan ini. 

Kekuatan maaf bagi seseorang, mungkin memiliki dampak yang berbeda-beda, dengan intensitas memberikan maaf yang berbeda-beda pula.  Hingga kini saya meyakini,  “kekuatan kata maaf” ini selalu mampu menciptakan “keajaiban-keajaiban” dalam hidup seseorang.

Saturday, April 28, 2018

Hikmahku hari ini

Sudah lama saya tidak update di blog pribadi ini. mungkin karena kesibukan dan bad mood yang panjang. semoga kedepan tetap istiqomah dalam bilik ruang pribadi ini. 

Pelajaran hari ini yang kudapat adalah timbulnya suatu kepercayaan untuk melaksanakan sesuatu. kegiatan kecil atau sederhana memang tidak terlihat sesuatu yang wah atau megah. tapi dikerjakan dengan sungguh-sungguh akan menimbulkan kekuatan yang besar. Fokus dan tetap semangat dijalan yang sudah dikerjakan.  

Bahkan bila mengutip ayat Al-Quran,  tidak hanya memerintahkan asal  bekerja  saja, tetapi  bekerja dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati. Al-Quran tidak memberi peluang kepada seseorang untuk  tidak  melakukan suatu  aktivitas  kerja  sepanjang  saat yang dialaminya dalam kehidupan dunia ini. Surat Al-'Ashr dan dua ayat terakhir dari surat   Alam  Nasyrah  menguraikan  secara  gamblang  mengenai tuntunan di atas.

Dalam surat Alam Nasyrah, terlebih dahulu ditanaman  optimisme kepada setiap Muslim dengan berpesan,

     ... karena. sesungguhnya sesudah kesulitan ada 
     kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan ada 
     kemudahan      (QS 94: 5-6).
     
Maksudnya,  sesungguhnya  bersama  satu  kesulitan  yang  sama terdapat  dua kemudahan yang berbeda. Maksud ini dipahami dari bentuk redaksi ayat  di  atas.  Terlihat  bahwa  kata  al-ushr terulang   dua   kali  dan  keduanya  dalam  bentuk  definitif (ma'rufah) yakni menggunakan alif dan lam (al), sedangkan kata yusra  juga terulang dua kali tetapi dalam bentuk indefinitif, karena tidak menggunakan alif dan lam. Dalam kaidah kebahasaan dikemukakan  bahwa  apabila  dalam  suatu susunan terdapat dua kata yang sama dan keduanya berbentuk definitif, maka keduanya bermakna  sama  sedangkan bila keduanya berbentuk indefinitif, maka ia berbeda.

terngiang ditelingaku ucapan ulama Indonesia yang kharismatik Buya Hamka. dengan menyatakan :

   "Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan pun hidup.  
   Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja." 
   >>Buya Hamka<<

Artinya kalau hidup cuma untuk makan dan tidur binatang pun bisa melakukannya. Sebagai manusia tentu mesti punya nilai lebih. Hidup bukan untuk makan dan tidup. tapi makan dan tidur untuk hidup, agar dapat menjadi bernilai hidupnya bagi sesama. Sebagai manusia, kalau bekerja sekadar bekerja. Apa bedanya dengan kera? Kera juga bisa bekerja dengan keahliannya. Kera bisa bekerja untuk manusia dengan memetik kelapa. Apa yang dikatakan Buya Hamka memang terasa menohok. Kita sebagai manusia dengan segala pembenarannya bekerja sekadar mendapat imbalan. 

Oleh sebab itu dalam bekerja kita kehilangan rasa. Seringkali keadaan yang menyebabkan kita berlaku demikian. Apalagi di tempat kita bekerja tidak ada apresiasinya. Yang rajin dan yang malas sama saja penghargaannya.

Apa artinya bekerja rajin dan sungguh-sungguh kalau hasilnya toh sama saja? Dalam kondisi ini keluguan dan semangat kita hilang. Bekerja jadi sekadar bekerja. Secara logika kita anggap benar saja. Tetapi secara kejiwaan kita telah menyia-nyiakan potensi yang kita miliki. Pada dasarnya kita orang yang rajin dan bersemangat. Tapi rela memalaskan diri.

Bila bekerja hanya sekadar demi imbalan tanpa kecintaan, maka tak akan dapar terhindarkan bila kita akan bekerja sekada bekerja. Alangkah indahnya hidup ini bila kita dapat bekerja bukan sekadar mengejar imbalan. Tapi ada kecintaan yang menyertai. Kalau bukan karena semangat atau gairah dan kecintaan. Apa lagi namanya? Bila hal ini dapat kita aplikasinya dalam pekerjaan kita tentu bekerja menjadi sesuatu hal yang sangat menyenangkan.

Jadi kesimpulannya, agar kita terhindar dari bekerja sekadar bekerja pilihannya adalah mencari pekerjaan yang sesuai dan memberikan kenyamanan, sehingga tidak terkesan membudakkan diri dalam bekerja. Tapi dapat bekerja dengan penuh suka cita dan cinta. Masih ada sisi kemanusiaan yang menyertai.

Semoga dibalik kesusahan ada kemudahan. dan semua itu atas pertolongan dari Allah SWT. Amin Ya Robbal Alamin.



Membahas masalah keummatan ......



berkumpul bersama sahabat

 

kebersamaan...mahal harganya

disela kesibukan dalam rangkaian organisasi

pengabdian tiada batas


Thursday, March 5, 2015

Mengaji



















Mengaji ...........
Mengaji itu adalah mengkaji diri biar teraji hingga terasah dan teruji

Mengaji ...........
Mengaji itu terpuja dan terpuji
Terpuja di mata Allah dan terpuji di mata manusia
bukan di puji-puji dan terpuja di mata manusia

Mengaji...............
Mengaji itu biar kata-kata nya tertata dan pitutur nya tidak ngelantur

Wednesday, March 4, 2015

Hikmah dibalik sebuah peristiwa


Selama ini kita sadar sebuah peristiwa sering kita anggap sebuah kisah biasa saja, berlalu.... ada yang melupakannya segera, ada yang mencatatnya bahkan sebagian orang lagi menganggap sebagai kejadian yang bisa dibawa sebagai dongeng sebelum menjelang tidur. 

Hidup itu tidak indah... Kesan awalnya bagi yang merasa hidup ini penuh dengan kedukaan atau hidup ini begitu indah karena beberapa peristiwa yang membawa kebahagiaan. Begitu juga yang menganggap hidup ini biasa saja  karena suka dan duka akan selalu hadir dalam kehidupan kita silih berganti. 

Beberapa banyak dari kita yang dapat mengambil hikmah dibalik sebuah peristiwa?
Semua itu dikembalikan kepada anda semua yang dapat menjawabnya. Allah memberitahukan kita bahwa dalam setiap peristiwa yang Dia ciptakan terdapat kebaikan di dalamnya. Ini merupakan rahasia lain yang menjadikan mudah bagi orang-orang yang beriman untuk bertawakal kepada Allah. Allah menyatakan, bahkan dalam peristiwa-peristiwa yang tampaknya tidak menyenangkan terdapat kebaikan di dalamnya:

"Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." (Q.s. an-Nisa': 19).

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui." (Q.s. al-Baqarah: 216).

Seseorang mungkin tidak selalu melihat kebaikan dan hikmah Ilahi di balik setiap peristiwa. Sekalipun demikian ia mengetahui dengan pasti bahwa terdapat kebaikan dalam setiap peristiwa. Ia memanjatkan doa kepada Allah agar ditunjukkan kepadanya kebaikan dan hikmah Ilahi di balik segala sesuatu yang terjadi.

"Kami berfirman, 'Turunlah kamu dari surga itu. Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan mereka tidak bersedih hati'." (Q.s. al-Baqarah: 38)

"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar." (Q.s. Yunus: 62-4).

Tuesday, March 3, 2015

Istiqomah (Konsistensi)

Hidup ini membutuhkan konsistensi....terkadang kita larut dalam sebuah persoalan namun lupa pada hal-hal yang kecil karena fokus pada hal lain. Ternyata konsistensi itu tidak semudah yang kita bayangkan. Butuh perjuangan dan keteguhan hati. Padahal yang kita lakukan adalah hal-hal yang kecil dalam kehidupan kita. 

Terngiang dalam ingatan ketika orang tua mengingatkan kita pada hal-hal yang sederhana.... ala bisa karena biasa begitu pepatah yang tepat untuk menjelaskan hal tersebut. 

contoh lainnya adalah ketika ibadah... kita diminta untuk istiqomah. ternyata itu menjadi persoalan besar jika tidak biasa melakukannya. 

Minta perlindungan kepada Allah selalu agar memberikan bimbingan tetap konsisten di jalan-Nya. Karena, seperti disebutkan di surah Yusuf ayat 64, Allah adalah sebaik-baik pelindung. Agar lebih utama, berdoalah secara spesifik agar diberikan konsistensi tersebut. 


Dalam sebuah riwayat, Rasul pernah berdoa sebagai berikut, “Allahumma inni as’aluka ats-tsabata fi al-amri wa al-azimata ‘ala ar-rusydi. (Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu konsistensi dalam suatu urusan dan tekad yang kuat terhadap kebijaksanaan).”




TETAPLAH ISTIQOMAH, INSYA ALLAH JANNAH
Keimanan kepada Allah menuntut sikap istiqomah. Keyakinan hati, kebenaran lisan dan kesungguhan dalam amal adalah unsur-unsur keimanan yang mesti dijalankan dengan istiqomah. Istiqomah yang berarti keteguhan dalam memegang prinsip, menempuh jalan (agama) yang lurus (benar) dengan tidak berpaling ke kiri maupun ke kanan. Istiqomah ini mencakup pelaksanaan semua bentuk ketaatan (kepada Allah) lahir dan batin, dan meninggalkan semua bentuk larangan-Nya.
DIJANJIKANNYA SURGA
Di antara ayat yang menyebutkan keutamaan istiqomah adalah firman Allah Ta’ala,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.” (QS. Fushilat: 30)

Yang serupa dengan ayat di atas adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ, أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al Ahqaf: 13-14)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Katakanlah: “Aku beriman kepada Allah“, kemudian beristiqamahlah dalam ucapan itu.” [HR. Muslim no. 38]
JENIS-JENIS ISTIQOMAH
Yang dimaksud dengan istiqomah di sini terdapat tiga pendapat di kalangan ahli tafsir:

1. Istiqomah di atas tauhid
2. Istiqomah dalam ketaatan dan menunaikan kewajiban Allah
3. Istiqomah di atas ikhlas dan dalam beramal hingga maut menjemput

Dan sebenarnya istiqomah bisa mencakup tiga tafsiran ini karena semuanya tidak saling bertentangan.
PASTI ADA KEKURANGAN DALAM ISTIQOMAH
Terkadang kita tergelincir dan tidak bisa istiqomah secara utuh. Lantas apa yang bisa menutupi kekurangan ini? Jawabannya adalah pada firman Allah Ta’ala,
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ

“Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Rabbmu adalah Rabb Yang Maha Esa, maka tetaplah istiqomah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya.” (QS. Fushilat: 6).

Ayat ini memerintahkan untuk istiqomah sekaligus merupakan isyarat bahwa seringkali ada kekurangan dalam istiqomah yang diperintahkan. Yang menutupi kekurangan ini adalah istighfar (memohon ampunan Allah).
KIAT AGAR TETAP ISTIQOMAH
Ada beberapa sebab utama yang bisa membuat seseorang tetap teguh dalam keimanan.
1. MEMAHAMI & MENGAMALKAN 2 KALIMAH SYAHADAT
Allah Ta’ala berfirman,
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27)

Qotadah As Sadusi mengatakan, “Yang dimaksud Allah meneguhkan orang beriman di dunia adalah dengan meneguhkan mereka dalam kebaikan dan amalan sholih. Sedangkan di akhirat, mereka akan diteguhkan di kubur (ketika menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir, pen).” Perkataan semacam Qotadah diriwayatkan dari ulama salaf lainnya. [Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 4/502.]
Mengapa Allah bisa teguhkan orang beriman di dunia dengan terus beramal sholih dan di akhirat (alam kubur) dengan dimudahkan menjawab pertanyaan malaikat “Siapa Rabbmu, siapa Nabimu dan apa agamamu”? Jawabannya adalah karena pemahaman dan pengamalannya yang baik dan benar terhadap dua kalimat syahadat. Memenuhi rukun dan syaratnya. Serta dia pula tidak menerjang larangan Allah berupa menyekutukan-Nya dengan selain-Nya, yaitu berbuat syirik.

Oleh karena itu, kiat pertama ini menuntunkan seseorang agar bisa beragama dengan baik.

2. MENGKAJI, MENGHAYATI, & MERENUNGKAN AL-QURAN
Allah menceritakan bahwa Al Qur’an dapat meneguhkan hati orang-orang beriman dan Al Qur’an adalah petunjuk kepada jalan yang lurus. Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur’an itu dari Rabbmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.” (QS. An Nahl: 102)

Al Qur’an adalah jalan utama agar seseorang bisa terus kokoh dalam agamanya, karena Al Qur’an adalah petunjuk dan obat bagi hati yang sedang ragu.
هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ

“Al Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Fushilat: 44).

3. ILTIZAM (KONSEKUEN)
Maksudnya di sini adalah seseorang dituntunkan untuk konsekuen dalam menjalankan syari’at atau dalam beramal dan tidak putus di tengah jalan. Karena konsekuen dalam beramal lebih dicintai oleh Allah daripada amalan yang sesekali saja dilakukan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits,
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” [HR. Muslim no. 783]
Selain amalan yang kontinu dicintai oleh Allah, amalan tersebut juga dapat mencegah masuknya virus “futur” (jenuh untuk beramal). Jika seseorang beramal sesekali namun banyak, kadang akan muncul rasa malas dan jenuh. Sebaliknya jika seseorang beramal sedikit namun terus menerus, maka rasa malas pun akan hilang dan rasa semangat untuk beramal akan selalu ada. Itulah mengapa kita dianjurkan untuk beramal yang penting kontinu walaupun jumlahnya sedikit.
4. MEMBACA & MENELADANI KISAH-KISAH ORANG SHOLIH
Dalam Al Qur’an banyak diceritakan kisah-kisah para nabi, rasul, dan orang-orang yang beriman yang terdahulu. Kisah-kisah ini Allah jadikan untuk meneguhkan hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengambil teladan dari kisah-kisah tersebut ketika menghadapi permusuhan orang-orang kafir. Allah Ta’ala berfirman,
وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Hud: 11)

Lihatlah di salam Al-Quran bagaimana keteguhan Nabi Ibrahim dan Nabi Musa dalam menghadapi ujian dan ketika berada dalam kondisi sempit. Mereka menyandarkan semua urusannya pada Allah, sehingga mereka pun selamat. Begitu pula kita ketika hendak istiqomah. Dan masih banyak lagi cerita-cerita orang sholih dalam Al-Quran yang bisa kita jadikan tauladan (uswah).
Itulah orang-orang sholih yang kemungkinan mereka sudah tidak hidup di dunia ini, namun jika dipelajari jalan hidupnya akan membuat hati semakin hidup. Berbeda halnya jika yang dipelajari adalah kisah-kisah orang-orang fasik, para artis, yang menjadi public figure yang hidup dalam gemerlapnya dunia. Walaupun mereka saat ini mungkin masih hidup, malah membuat hati semakin mati, membuat kita semakin tamak pada dunia dan gila harta. Wallahul muwaffiq.
5. PERBANYAK DOA AGAR ISTIQOMAH
Di antara sifat orang beriman adalah selalu memohon dan berdo’a kepada Allah agar diberi keteguhan di atas kebenaran.
Allah Ta’ala berfirman,
رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Ya Rabb kami, limpahkanlah kesabaran atas diri kami, dan teguhkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” (QS. Al Baqarah: 250)

Do’a lain agar mendapatkan keteguhan dan ketegaran di atas jalan yang lurus adalah,
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali Imron: 

Do’a yang paling sering Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan adalah,
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”

6. BERGAUL DENGAN ORANG-ORANG SHOLIH
Allah memerintahkan agar selalu bersama dengan orang-orang yang baik. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar(jujur).” (QS. At Taubah: 119)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada kita agar bersahabat dengan orang yang dapat memberikan kebaikan dan sering menasehati kita.
“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” [HR. Bukhari no. 2101]
Itulah pentingnya bergaul dengan orang-orang yang sholih. Oleh karena itu, sangat penting sekali mencari lingkungan yang baik dan mencari sahabat, teman dekat apalagi pasangan hidup yang semangat dalam menjalankan agama sehingga kita pun bisa tertular aroma kebaikannya. Jika lingkungan kita adalah baik, maka ketika kita keliru, ada yang selalu menasehati dan menyemangati kepada kebaikan.
Demikian beberapa kiat mengenai istiqomah. Semoga Allah senantiasa meneguhkan kita di atas ajaran agama yang hanif (lurus) ini. Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu.
Wallahu a’lam bish shawab

Monday, March 2, 2015

Bersama kesulitan ada kemudahan


fainnama’al ‘usri yusro.. innama’al ‘usri yusro…
sesungguhnya bersama dengan kesulitan, ada kemudahan.. bersama dengan kesulitan, ada kemudahan..

(Al-Insyirah : 6-7)

ayat diatas terlihat ada pengulangan kata yang maknanya perlu dikaji.....
“ Sesungguhnya bersama kesulitan itu, ada kemudahan “ ?

Menurut ulama Tafsir : Pertama, biasanya ayat yang turun ketika Rasul masih di Mekah, sering ada pengulangan kalimat. Tujuannya, untuk mengukuhkan jiwa Muhammad dalam menghadapi banyaknya tantangan. Dapat dilihat pengulangan kalimat itu misalnya pada surah Al-Qadr, Al-Takastur, Al-Kafirun dan Al-Nas.

Kedua, dalam tata-cara Bahasa Arab, kalimat yang menggunakan “ Alif dan Lam “ berbeda artinya dengan yang tidak menggunakan, “alif dan lam”. Dapat dilihat “ Al’Usri “ (Kesulitan) memakai pakai “Alif dan Lam”. Sedang “Yusra” (Kemudahan) tidak memakai “Alif dan Lam”. Artinya, “ Al-‘usri “ diucapkan dua kali, artinya sama persis kesusahannya.. Tapi “ Yusri “ yang diucapkan dua kali, mengandung arti, dua kemudahan.

Sesungguhnya dalam sebuah kesulitan, ada kemudahan . dan dalam kesulitan yang tadi itu ada kemudahan yang lain. Dalam satu kesulitan terdapat duali kemudahan. Ya! Jadi dalam setiap kesulitan yang kamu rasakan. Satu kali kesulitannya Diiringi dengan dua kali kemudahan dari Allah SWT. Kemudahan di dunia untuk kemudian kemudahan di hari akhirat nanti.

Berdasarkan penafsiran ayat tesebut, maka seorang muslim tidak perlu putus asa menghadapi betapa banyaknya problem yang dihadapi dan segera diatasi. Artinya insya Allah tidak terlalu berat, karena ayat diatas menafsirkan satu kesulitan, dapat diatasi dua atau lebih kemudahan.

kaitannya adalah dengan hadist  ke 19 Al-wafi : Ihfazillaha tajidhu amamaka, ta'arrof ilallahi firrokho i  ya'rifka fissyiddati wa'lam anna ma akhto'aka lam yakun liyushibaka wa anna ma ashobaka lam yakun liyukhti aka, wa'lam anna nashro ma'al shobri wa annal faroja ma'al karbi wa anna ma'al 'usri yusro.

artinya: jagalah Allah, pasti kamu selalu bersamanya, kenalilah Allah pada saat lapang pasti Dia mengenalmu diaat kamu susah, ketahuilah apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu, kemenangan seiring dengan kesabaran, kebahagiaan seiring dengan cobaan dan kemudahan seiring dengan kesulitan. 

Sebagai seorang hamba kita tidak boleh berputus asa pada rahmat Allah. walaupun berat tantangan dan permasalahan yang dihadapi. Diperkuat ayat Alquran lain dengan mengatakan “ Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali hanya orang-orang yang sesat..“ (QS. 15: 56).

dan pada akhirnya, kesabaranlah yang bisa kuandalakn sebagai benteng pengharapan dan pertolongan.. setelah dikuatkan oleh beberapa ayat ini :
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (Al Baqarah : 45)
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu,sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Al-Baqarah : 153)
salah satu upaya yang harus dilakukan adalah berdo'a. 
Seorang muslim masih ada satu amalan yang harus dibiasakan lakukan secara rutin, yaitu berdoa terutama tengah malam..Berdoa dan berdoa. Apalagi menghadapi masalah berat. Kontak batin dengan niat yang baik, akan menghasilkan hasil yang baik pula.

Ketika Nabi Musa diperintahkan menghadapi Fir’aun yang mendakwakan dirinya Tuhan dan penguasa tunggal, terhadap kaum Bani Israel, disamping meminta pembantu yang jujur yakni saudaranya sendiri, Harun, juga seaantiasa bermohon kepada Allah agar Tuhan menganugerahkan kelapangan dada terhadap dirinya, untuk mempermudah segala persoalan.
“ Wahai Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku “ (QS. 2: 25-26).

Doa yang dibaca seorang muslim berulang-ulang, akhirnya Musa dan pemimpin lain urusannya dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Fir’aun.yang kejam bersedia mendengarkan uraian Musa, sekalipun menolak ajarannya. Dan Tukang-tukang sihir Fir’aun terkalahkan oleh mu’jizat tongkat yang berubah menjadi ular yang lebih besar, menelan semua ular-ular sihir Fir’aun.

Man yuridillahu bihi khoiron yusib minhu " Siapa yang dikehendaki oleh Allah menjadi orang baik  akan diberi cobaan (ujian)" (HR Tirmizi)

bismillahitawakkaltu ‘allallah
Ya Allah, bantu dan kuatkan hamba Ya Rabb…


Thursday, February 26, 2015

Mencari Rizki Yang Halal

Mencari rizki yang halal merupakan kegiatan umat manusia sehari-hari, terkadang sejak dimulai dari pagi hari hingga larut malam. Bahkan segelintir manusia merasa risau akan rizkinya. Padahal Allah sudah menyatakan:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
“Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya.” (QS. Hud [11]: 6).

Beberapa dari manusia untuk mencari rizki ini rela menggadai diri dan menghinakan martabat.
Kondisi dunia modern yang sarat persaingan dan pergulatan menuntut mereka untuk lebih berjibaku dalam mencari nafkah berupa karunia Tuhan. Betapa banyak setiap pagi hari di belahan bumi manapun didapati wajah-wajah penuh ketegangan dan kepanikan yang memancarkan rona khawatir
dalam mengais rezeki di pagi hari. Seolah mereka tiada memiliki Tuhan yang Maha Kaya Yang Mampu menjamin rezeki setiap hambaNya. Dialah Allah, Ar Razzaq Sang Pemberi Rezeki. 

Sebab itu usahlah panik dalam mencari karunia Allah Swt berupa rezeki. Yakinilah bahwa rezeki itu datang, bahkan kedatangannya menghampiri diri kita begitu cepat.
“Sesungguhnya rezeki itu akan mencari seseorang dan bergerak lebih cepat daripada ajalnya.” HR. Thabrani

Tuesday, February 24, 2015

Kekecewaan mendalam


kecewa adalah suatu sikap yang sering dialami. entah itu pada suatu masalah atau melihat hal-hal yang tidak berjalan sewajarnya. mengobati rasa kecewa adalah langkah terbaik.

kesedihan mendalam membutuhkan hiburan dan motivasi yang kuat untuk bangkit. kekecewaan itu terkadang muncul tiba-tiba bahkan tidak dapat kita prediksi. biasanya disertai dengan sedih dan marah. bila memuncak bahkan membuat kita tidak dapat mengendalikan diri.

betapa berat beban ... saat kecewa. apa yang harus dilakukan? 

Pertama 
jangan terlalu berharap dan bergantung dengan orang lain. 
inilah masalah terbesar yang dihadapi. dan saya sendiri pernah merasakannya. berharap banyak dan bergantung kepada orang lain. disinilah kita harus mengambil sikap jangan berharap dengan orang lain. berharaplah kepada Tuhan karena dia telah menciptakan kita.

Kedua
Percaya kepada diri sendiri
kita merupakan makhluk sosial yang bergantung dengan orang lain, namun ada kalanya kita harus percaya pada diri sendiri untuk menyelesaikan masalah kita. tidak pula bergantung dengan orang lain. ambil sikap .... percaya deh .. tidak akan membuat kita ingin bergantung pada yang lainnya walaupun sulit.

Ketiga
Jangan terlalu dipikirkan apa yang sudah terjadi
inilah yang berat. kita selalu memikirkan apa yang sudah terjadi. kita menyesal dan merasa tidak percaya pada hal yang sudah terjadi. sehingga kita terus mengungkit-ungkit hal yang sudah terjadi. ikhlaskanlah apa yang terjadi walaupun kita sudah melakukan pengorbanan. biasanya kita merasa keadilan tidak berpihak kepada diri kita.

Keempat
bersyukur menjadikan kita bahagia
bersyukur adalah jalan yang lebih baik membuat diri kita lebih kuat. karena saat kecewa datang diri kita sangat rapuh. untuk menguatkan maka bersyukurlah bahwa kita tidak larut terlalu mendalam. sikap bahagia akan merubah kekecewaan kita menjadi lebih baik.

Kelima
melakukan sesuatu yang positif dan bermanfaat
ini adalah hal terbaik yang dilakukan. sebuah kegiatan yang bermanfaat dan positif menolong diri kita menjadi lebih baik lagi. ibarat kata mario teguh itu menjadi lebih supeerrrr ...hehehehe

Tuesday, May 13, 2008

Secangkir Kopi



















ini adalah secangkir kopi yang menjadi temanku saat hari dingin ..suatu hari ketika menuju daerah tebing tinggi, dan melanjutkan perjalanan ke daerah kota Lubuk Linggau

rutinitas


Hasil gambar untuk Rutinitassenangnya hidup dengan rutinitas...padahal banyak yang merasa rutinitas itu sangat membosankan. ah..tidak juga. yang membosankan adalah kita tidak tahu ..apa yang kita tahu dan tahu yang kita tidak tahu. betul-betul membosankan.
eit...rutinitas bisa dinikmati, ingat saja dan mainkan...hohoho..asyik kan
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com