Gambaran Umum Fisik Rasulullah SAW

Anas bin Malik ra berkata: “Rasulullah saw. bukan orang yang tinggi sekali, dan tidak pula pendek. Tidak juga putih sekali, dan tidak berwarna coklat. Rambutnya tidak terlalu keriting dan tidak terlalu lurus.

Hadits Qudsi

Sering kita mendengarkan dalam kehidupan sehari-hari tentang hadits qudsi. apakah hadits qudsi itu? apakah beda hadits qudsi dengan hadits nabawi secara umum ? apakah derajatnya sama dengan Al Quran ? inilah yang akan kita bahas disini.

Do'a Niat Wudhu

Wudhu adalah mensucikan anggota tubuh dengan menggunakan air bersih.Jika akan melakukan ibadah Shalat seorang muslim diwajibkan berwudhu,Wudu juga bisa di lakukan dengan debu atau yang di sebut dengan tayamum.

Keluarga Rasulullah SAW

Ayah dan Ibu Rasulullah SAW, Nama ayah baginda ialah: Abdullah ibn Abdul Mutthalib ibn Hasyim ibn Abd Manaf ibn Qushay ibn Kilab ibn Murrah ibn Ka’ab ibn Lu’ay ibn Ghalib ibn Fihr ibn Malik ibn al-Nadhr ibn Kinanah ibn Khuzaimah ibn Mudrikah ibn Ilyas.

Kelahiran Rasulullah SAW

Kelahiran Rasulullah SAW. Beliau lahir pada hari Senin 12 Rabi’ul Awal tahun Gajah. Dinamakan sebagai tahun Gajah karena di tahun itu menjelang kelahiran Muhammad, terjadi peristiwa besar, yaitu penyerangan pasukan gajah dari negeri Habasyah menuju Makkah.

Showing posts with label Tafsir. Show all posts
Showing posts with label Tafsir. Show all posts

Wednesday, March 4, 2015

Tafsir Al Humazah

Tafsir Al Humazah
Surah Al Humazah (Pengumpat)  Surah ke-104. 9 ayat. Makkiyyah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Ayat 1-9: Celaan kepada orang yang menggunjing orang lain sebagaimana tercelanya orang yang menimbun hartanya sehingga tidak berinfak, dan akibat yang akan mereka peroleh.

وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ (١) الَّذِي جَمَعَ مَالا وَعَدَّدَهُ (٢) يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ (٣) كَلا لَيُنْبَذَنَّ فِي الْحُطَمَةِ (٤) وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْحُطَمَةُ (٥) نَارُ اللَّهِ الْمُوقَدَةُ (٦) الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الأفْئِدَةِ (٧) إِنَّهَا عَلَيْهِمْ مُؤْصَدَةٌ (٨) فِي عَمَدٍ مُمَدَّدَةٍ (٩

Terjemah Surat Al Humazah Ayat 1-9
1.    Celakalah (1)  bagi setiap pengumpat dan pencela(2),
2.    yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya (3),
3. dia (manusia) mengira (4) bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya (5),
4.  Sekali-kali tidak! Pasti dia akan dilemparkan ke dalam (neraka) Huthamah (6).
5.    Dan tahukah kamu apakah (neraka) Huthamah itu?(7)
6.    (Yaitu) api (azab) Allah yang dinyalakan(8),
7.    yang (membakar tembus) sampai ke hati (9).
8.    Sungguh, api itu ditutup rapat atas (diri) mereka,
9.    (sedang mereka diikat) pada tiang-tiang yang panjang (10).


(1) Kata ‘wail’ merupakan kata siksaan, ancaman dan kerasnya azab, atau sebuah lembah di neraka Jahannam. 
(2) Menurut penyusun tafsir Al Jalaalain, ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang sering menggunjing Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan kaum mukmin, seperti Umayyah bin Khalaf, Walid bin Mughirah dan lain-lain, wallahu a’lam.
  Humazah artinya yang mencela manusia dengan isyarat dan perbuatannya, sedangkan lumazah adalah yang mencela dengan ucapannya. Di antara sifat para pengumpat (penggunjing) lagi pencela adalah seperti yang disebutkan dalam ayat selanjutnya, yaitu tidak ada maksud selain mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, tidak suka berinfak di jalur-jalur kebaikan, menyambung tali silaturrahim, dan sebagainya.
(3) Maksudnya mengumpulkan dan menghitung-hitung harta yang membuatnya menjadi kikir dan tidak mau menginfakkannya di jalan Allah.
(4)  Karena kebodohannya.
(5)  Yakni membuatnya kekal dan tidak mati. Oleh karena itulah, usaha kerasnya hanya untuk mengembangkan hartanya yang ia kira dapat memanjangkan umurnya. Ia tidak menyadari, bahwa kebakhilan dapat mengurangi umur dan merobohkan tempat tinggalnya, sedangkan kebaikan dapat menambah umur.
(6) Disebut ‘Huthamah’ karena ia memecahkan segala sesuatu yang dilempar ke dalamnya.
(7)  Kalimat ini untuk memperbesar perkaranya.
(8)  Yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.
(9)  Sehingga rasa sakitnya demikian pedih.
(10) Bisa juga diartikan ‘dalam tiang-tiang yang panjang’ yakni tiang- tiang di balik pintu yang panjang, agar mereka tidak bisa keluar darinya. Kita berlindung kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala dari neraka dan meminta kepada-Nya ampunan dan ‘afiyah (penjagaan).

Selesai tafsir surah Al Humazah dengan pertolongan Allah, taufiq-Nya dan kemudahan-Nya, wal hamdulillahi Rabbil ‘aalamiin.

Sunday, February 22, 2015

Tafsir Al Mulk Ayat 1-11

Tafsir Al Mulk Ayat 1-11Juz 29Surah Al Mulk (Kerajaan)Surah ke-67. 30 ayat. Makkiyyah  بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِDengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.Ayat 1-5: Kerajaan Allah meliputi kerajaan dunia dan akhirat, dan bahwa kekuasaan dan ilmu-Nya tampak di alam semesta.

  تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (١)الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ (٢)الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ (٣) ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ (٤) وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ (٥)
Terjemah Surat Al Mulk Ayat 1-51. Mahasuci Allah yang di tangan-Nya segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu[1].2. Yang menciptakan mati dan hidup[2], untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya[3]. Dan Dia Mahaperkasa[4] lagi Maha Pengampun[5],3. Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis[6]. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang[7] pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. [8]Maka lihatlah sekali lagi[9], adakah kamu lihat sesuatu yang cacat?4. Kemudian ulangi pandangan(mu) sekali lagi (dan) sekali lagi[10], niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu tanpa menemukan cacat dan ia (pandanganmu) dalam keadaan letih[11].5. [12]Dan sungguh, telah Kami hiasi langit yang dekat[13], dengan bintang-bintang[14] dan Kami jadikan bintang-bintang itu sebagai alat-alat pelempar setan[15], dan Kami sediakan bagi mereka[16] azab neraka yang menyala-nyala[17].Ayat 6-11: Sifat neraka Jahanam yang disiapkan untuk orang-orang kafir, keadaannya yang marah kepada mereka, dan azab yang diderita orang-orang kafir di neraka.


  وَلِلَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (٦) إِذَا أُلْقُوا فِيهَا سَمِعُوا لَهَا شَهِيقًا وَهِيَ تَفُورُ (٧) تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ (٨) قَالُوا بَلَى قَدْ جَاءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلا فِي ضَلالٍ كَبِيرٍ (٩) وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ (١٠) فَاعْتَرَفُوا بِذَنْبِهِمْ فَسُحْقًا لأصْحَابِ السَّعِيرِ (١١)

Terjemah Surat Al Mulk Ayat 6-116. Dan orang-orang yang ingkar kepada Tuhannya, akan mendapat azab Jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.7. Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya[18] mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu membara,8. hampir meledak karena marah[19]. Setiap kali ada sekumpulan (orang-orang kafir) dilemparkan ke dalamnya, penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, "Apakah belum pernah ada orang yang datang memberi peringatan kepadamu (di dunia)[20]?"9. Mereka menjawab, "Benar, sungguh, seorang pemberi peringatan telah datang kepada Kami, tetapi Kami mendustakan(nya) dan Kami katakan, "Allah tidak menurunkan sesuatu apa pun, kamu sebenarnya di dalam kesesatan yang besar[21]."10. Dan mereka berkata[22], "Sekiranya (dahulu) kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) tentulah kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala[23].”11. Maka mereka mengakui dosanya[24]. Tetapi, jauhlah (dari rahmat Allah) bagi penghuni neraka yang menyala-nyala itu[25].


[1] Yakni Mahaagung, Mahatinggi, Mahabanyak kebaikan-Nya dan merata ihsan-Nya. Di antara keagungan-Nya adalah di Tangan-Nya kerajaan alam bagian atas maupun alam bagian bawah, Dia yang menciptakannya, bertindak sesuai kehendak-Nya dengan hukum-hukum qadari-Nya (taqdir) dan hukum-hukum agama-Nya (syariat) yang mengikuti hikmah(kebijaksanaan)-Nya. Di antara keagungan-Nya juga adalah sempurnanya kekuasaan-Nya dimana dengan kekuasaan itu Dia menaqdirkan segala sesuatu dan dengannya Dia menciptakan makhluk-makhluk yang besar seperti langit dan bumi.[2] Yakni kematian di dunia dan kehidupan di akhirat. Atau, Dia menetapkan untuk hamba-hamba-Nya hidup di dunia kemudian mati.[3] Yakni lebih ikhlas dan lebih sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Hal itu, karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala menciptakan hamba-hamba-Nya, mengeluarkan mereka ke tempat ini (dunia) dan memberitahukan bahwa mereka akan berpindah darinya; Dia memerintah dan melarang mereka serta menguji mereka dengan berbagai syubhat yang bertentangan dengan perintah-Nya, maka barang siapa yang tunduk kepada perintah Allah dan memperbagus amalnya, maka Allah akan memperbagus balasan-Nya di dunia dan akhirat, sebaliknya barang siapa yang mengikuti hawa nafsu dan menolak mengikuti perintah Allah, maka dia akan memperoleh balasan yang buruk.[4] Milik-Nya semua keperkasaan, dimana dengan keperkasaan-Nya Dia tundukkan segala sesuatu.[5] Terhadap orang-orang yang bersalah dan berdosa, khususnya apabila mereka bertobat dan kembali, maka sesungguhnya Dia mengampuni dosa-dosa mereka meskipun dosa mereka setinggi langit, dan Dia akan menutup aib mereka meskipun sepenuh dunia. Ya Allah, ampunilah kami dan tutupilah aib kami.[6] Masing-masing lapisan di atas yang lain, Dia menciptakannya dalam keadaan yang sangat bagus dan rapi.[7] Bisa juga diartikan dengan kerusakan dan kekurangan. Jika pada langit tidak terdapat kerusakan, maka berarti langit itu sangat indah dan sempurna, seimbang dan sesuai baik warnanya, bentuknya maupun tingginya, demikian pula apa yang ada di sana seperti matahari, bulan, bintang, benda langit yang diam dan yang bergerak.[8] Oleh karena kesempurnaannya sudah dimaklumi, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan agar melihat sekali lagi dan memperhatikan segala penjurunya.[9] Sambil memikirkan dan mengambil pelajaran.[10] Maksudnya adalah melihatnya berkali-kali.[11] Ternyata tidak ada cacat.[12] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan secara tegas keindahannya.[13] Dengan bumi.[14] Dengan cahayanya yang beraneka ragam, dimana jika tidak ada bintang tentu langit menjadi atap yang gelap dan menjadi tidak indah dan tidak menarik. Allah Subhaanahu wa Ta'aala juga menjadikannya sebagai petunjuk bagi musafir di kegelapan daratan dan lautan.[15] Apabila mereka (para setan) mencuri berita dari langit, yaitu dengan dilepasnya meteor dari bintang-bintang seperti suluh api yang diambil dari api, kemudian dilemparkan kepada jin sehingga jin yang mencuri berita itu terbunuh atau anggota badannya terpotong, bukan maksudnya bahwa bintang-bintang besar di langit jatuh menimpa setan. Dengan demikian, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menjadikan bintang-bintang untuk menjaga langit.[16] Di akhirat.[17] Karena mereka durhaka kepada Allah dan menyesatkan hamba-hamba-Nya. Demikian pula para pengikut setan dari kalangan orang-orang kafir juga Allah siapkan azab neraka yang menyala-nyala sebagaimana diterangkan dalam ayat selanjutnya.[18] Yakni dengan dihinakan dan direndahkan.[19] Kepada orang-orang kafir.[20] Yaitu Rasul yang datang memberikan peringatan terhadap azab akhirat.[21] Mereka menggabung antara mendustakan secara khusus dengan mendustakan secara umum kepada semua yang Allah turunkan, bahkan tidak hanya itu, mereka terang-terangan menyesatkan para rasul yang memberi peringatan, padahal sesungguhnya mereka adalah para pemimpin yang memberi petunjuk.[22] Mengakui ketidaklayakan mendapat petunjuk.[23] Mereka singkirkan jalan-jalan petunjuk yaitu mendengar apa yang Allah turunkan dan apa yang dibawa para rasul serta akal yang bermanfaat bagi pemiliknya, yang mengarahkannya kepada hakikat segala sesuatu, mengutamakan kebaikan, membuat berhenti terhadap semua yang berakibat buruk, sehingga mereka tidak memiliki pendengaran dan akal lagi. Berbeda dengan orang-orang yang yakin dan berilmu; orang-orang yang jujur dan beriman, mereka perkuat keimanan mereka dengan dalil-dalil yang sam’i (naqli), mereka dengar semua yang datang dari Allah dan yang dibawa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan mengilmuinya dan mengamalkannya. Demikian pula mereka perkuat iman mereka dengan dalil-dalil ‘aqli (akal) sehingga mereka dapat mengetahui mana petunjuk dan mana kesesatan, mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang indah dan mana yang jelek, maka Mahasuci Allah yang telah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki dan menelantarkan siapa yang tidak layak memperoleh kebaikan.[24] Yaitu mendustakan para pemberi peringatan.[25] Sungguh sengsara dan binasa mereka karena tidak memperoleh pahala Allah, menetap terus di neraka yang membakar badan mereka dan menembus sampai ke hati.


luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com